Mengenal dan Memahami Docker

size-of-killer-whale

Di zaman virtualisasi ini berbagai komunitas berlomba-lomba untuk menciptakan sebuah platform virtualisasi terbaik yang dapat memenuhi kebutuhan dan hasrat para penggiat industri startup maupun industri di bidang Informasi dan Teknologi lainnya. Docker dengan teknologi containernya kemudian muncul dan membuat gebrakan di tengah-tengah pengguna Hypervisor, dan kini Docker berhasil menjadi salah satu teknologi yang banyak dipakai di dalam industri startup. Alasannya mudah karena dengan docker kita tidak perlu menginstall Sistem Operasi tertentu apabila kita hanya ingin menggunakan salah satu servicenya saja misalnya service Nginx. Dengan demikian kita dapat menghemat sumber daya mesin kita untuk dapat melakukan job lainnya juga, meskipun terkadang sebuah mesin hanya terpasang docker agar dapat menjalankan service docker secara maksimal.

Sedikit sejarah, docker dibuat oleh Solomon Hykes bersama Andrea Luzzardi dan Francois-Xavier Bourlet sebagai project internal di dotCloud.

Lalu apakah yang menjadi pembeda Teknologi Docker Container dan teknologi Virtual Machine?

Gambar diatas merupakan analogi struktur Virtual Machine(Kiri) dan Docker Container(Kanan). Nah dari gambar diatas dapat kita lihat perbedaannya.

Pada struktur VM dibutuhkan Hypervisor(Virtualization Software) sebagai penghubung antara mesin kita(Host OS) dan OS Virtualisasi (Guest OS). Dengan Demikian kita dapat menginstall OS apapun dengan versi kernel berapapun di dalam Guest OS, karena Guest OS dan Host OS bisa dikatakan terpisah meskipun secara logical Guest OS terletak di dalam  Host OS. Misalnya saja kita dapat menginstall Windows 7 di dalam Guest OS meskipun Host OS kita menggunakan Ubuntu 16.04.

Pada Struktur Docker dapat dilihat bahwa Container berjalan langsung diatas Mesin Kita(Host OS) tanpa adanya penghubung(Hypervisor) dengan demikian tidak dimungkinkan untuk menginstall OS maupun service di dalam Container dengan versi kernel yang berbeda. Jadi apabila kita menginstall OS atau service pada container pastilah OS atau service yang memiliki versi kernel dan library yang sama dengan Host OS. Misalnya kita dapat menginstall Centos pada container meskipun Host OS kita adalah ubuntu dengan catatan Centos yang kita install menjalan versi kernel yang sama dengan Host OS.

Docker banyak disukai oleh kalangan Devops(Developer+Operations). Karena dengan docker para developer dapat fokus pada development tanpa harus memikirkan environment pengembangan dan mesin yang akan menjalankan Code mereka. Sedangkan bagi para Operations docker menguntungkan mereka karena fleksibelitasnya dan kemampuannya dalam mengurangi kebutuhan resource untuk menjalankan sebuah container. Terimakasih.

Referensi:
https://www.docker.com/what-docker
https://devops.com/docker-vs-vms/
https://opensource.com/resources/what-docker

Iklan

3 pemikiran pada “Mengenal dan Memahami Docker

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s